Beberapa bulan terakhir, bumi sedang beristirahat dengan segala aktivitasnya ketika dunia dilanda pandemi. Tak terkecuali Indonesia yang sudah tiga minggu menutup berbagai instansi dan menerapkan kebijakan Work From Home. Tidak terkecuali pada sektor pendidikan, semua peserta didik harus belajar dirumah. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring dan atau memberikan penugasan dengan dibimbing orang tua. Ini adalah satu-satunya strategi agar anak-anak tetap bisa belajar ditengah wabah yang mengharuskan mereka tetap di dalam rumah. Tidak sedikit peserta didik yang mengeluh karena terbebani berbagai tugas belajar dirumah, bahkan orang tuapun demikian. Lalu bagaimana nasib anak dengan disabilitas? Kebijakan pemerintah dengan mewajibkan aktivitas belajar harus dilaksanakan dirumah sejatinya membawa dampak yang positif bagi orang tua dan anak dengan disabilitas. Bagaimana bisa tercapai? Pada dasarnya, anak dengan disabilitas memerlukan peranan besar orang tua dalam memberikan intervensi baik dari segi akademik maupun non akademik. Orang tua dituntut untuk mampu berkolaborasi dengan berbagai praktisi dalam memberikan penanganan. Asumsinya, keluarga memiliki waktu yang lebih panjang dibanding kegiatan di sekolah dan di lembaga terapi yang notabene memiliki waktu yang relatif singkat. Dengan demikian orang tua harus menerapkan ulang berbagai pembelajaran maupun latihan yang telah diberikan. Melalui aktif berkonsultasi dan berkolaborasi dengan tenaga ahli, perkembangan yang signifikan pada anak dengan disabilitas tidak menjadi sesuatu hal yang mustahil. Namun demikian, selama ini para orang tua di Indonesia tidak sedikit yang menggantungkan progres anak dengan disabilitas kepada guru maupun tenaga ahli lain tanpa adanya peran aktif mereka untuk menerapkan secara berkelanjutan di lingkungan keluarga. Pandemi Covid-19 boleh dibilang msuibah bagi seluruh penjuru, namun bagi dunia pendidikan khusus hal ini dapat memberikan hikmah yang besar bagi anak dengan disabilitas. Seperti yang disampaikan juru bicara UNICEF Indonesia dalam konferensi persnya seminggu yang lalu, bahwa berada di rumah dapat mendekatkan hubungan orang tua dengan anak-anak. Mungkin orang tua akan terbebani dengan aktivitas WFH yang harus ditambah dengan membimbing anak-anak belajar dirumah. Terlebih bagi orang tua yang tetap harus bekerja di luar. Namun, kegiatan belajar diurmah juga dapat dibimbing oleh anggota keluarga yang lain. Dengan demikian, orang tua dan keluarga akan lebih mengerti bagaimana progres kemampuan anak-anak melalui kegiatan belajar bersama, bermain bersama, dan lain sebagainya. Termasuk untuk anak dengan disabilitas, kegiatan belajar dirumah diharapkan mampu menciptakan kerjasama yang baik antara orang tua dengan berbagai praktisi yang selama ini belum terlaksana dengan baik. Orang tua dapat mengajarkan kemandirian, pentingnya menjaga kebersihan, membentuk berbagai keterampilan, bahkan menangani berbagai gangguan perkembangan yang ada pada anak dengan disabilitas. Sekali lagi, kuncinya adalah aktif berkonsultasi dan berkolaborasi menerapkan program pembelajaran individual dengan guru maupun praktisi lain yang berperan memberikan intervensi pada anak. Guru dan praktisi lain juga dituntut mampu melatih dan mengarahkan tentang bagaimana kiat-kiat yang harus diterapkan orang tua terhadap anak dengan disabilitas. Catatan pentingnya, guru dan praktisi wajib memantau penerapan dan progres ketercapaiannya serta memberikan program-program intervensi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Dengan demikian, di tengah wabah yang melanda seluruh penjuru bumi juga dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan anak dengan disabilitas pada khususnya, maupun peserta didik pada umumnya.

 

Penulis : Muchamad Irvan

Dosen Pendidikan Luar Biasa UM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *